Pengikut

Ahad, 11 September 2011

Artikel Dari Hati

Tidak mungkin kau fahami tiap-tiap definisi yang hati cuba memberi sebab engkau sesat mencari diri dan termanggu meneliti semalam hari. Kau gian minuman itu bukan? Darah dan airmata dari hati terluka dan mata yang tak tertahan sebak didada. Kau hirup tanpa meninggalkan setitis untuk diubati dengan rasa gembira , sedap bukan? Kecewa,terluka,hiba,hampa dan semua rasa yang menggambarkan seksa,dan kau juara, menghitung bangkai-bangkai hati yang tersadai,Piala!

Gendang gendut tali kecapi, luka hati baru puas hati
Siakap senohong gelama ikan duri, cinta kosong selama hati tak mengerti


Igau-igau selagi mimpi-mimpimu adalah mimpi-mimpi hancur dari hati yang berderai,mimpi ngeri.

-S.Syahmi-
-Lumut-

Selasa, 30 Ogos 2011

Moga Senyumnya Kembali














Asbut kemarau kasih berpilin
menjadi ribut istighfar
goncang jiwa digegar nestapanya
dalam laung
"Sayang,sayang dimanakah arah tujuku sayang
 hilang,hilang dalam perhentian hati
 hilang,hilang erti harga diri"

Laung-laung itu stanza tetap
diulang-ulang sehingga nafas tak kesampaian
dia yang dicari-cari
tetap tak menjawab
lesap dalam penyesalanku
lesap pergi bersama patah hatinya

Sekadar memohon maaf yang takkan diberikan
aku cuma mampu berharap senyumnya kembali dibibir

Isnin, 29 Ogos 2011

Hati dan kali berdarah

Bila kau lihat jendela itu
sendu-sendu lalu memburu kembali
kenang senang payah diharung dahulu
sepadu menjadi selagu rindu

Diam seribu bahasa
ketagih seribu penjelasan
inginku pecahkan sunyimu
mengharap jawapan berduri
biar sakit asal puas hati
dari kau terus berdiam diri

Kali mengalir dari dalam hati
alirnya darah deras dalam diri
hanya aku, hati dan perasan
mengenali erti sakit ditinggal sendiri

Kelibat dan Mawar Mati

(i)
Kau kelibat keseorangan
bersama ribut perasaan
datang menyemai
sekuntum mawar mati


(ii)
Terima kasih harapan
kerana memberi sebuah sandaran
sebatang tiang untuk berpegang
menghibur hati dalam takafur gersang
 

Sekelibat melayang menjauhkan diri
terbit titip tanya dari kosa kata
Kenapa kelibat itu pergi?
Kenapa kelibat membisu?
Kenapa kelibat itu
meninggalkan sebentuk hati
yang palsu?
 

Kau kelibat keseorangan
bersama ribut perasaan
pergi
bersama sekuntum mawar mati

Ahad, 28 Ogos 2011

Menghentak Seribu Warna

Kelibat seribu senandung lagu-lagu berlalu
sepi merebahkan rentaknya pada bisik syahdu
lalu kau datang dalam diam mempersona
menghentak seribu warna dari dunia kelamku
 

Kau pesimis abstrak dengan rimbun rindu di hati
menjengah ke laut hati bersama kail sanubari
umpannya suara sasarannya hati
hadiahnya cinta
(selagi jiwa masih bergolak madah pujangga)



Masih tentang rindu dan cinta kita berbicara
takkan sudah walau sampai akhirat sana
seguni budi selaut kasih segalaksi cinta
kemas diikat dalam bekas kecil kehidupan

Isi yang kita penuhi diri
meski raksanya darah dan kelikir nafas
hidup tetap hidup
mati tetap mati
maka
bercintalah
kerna itu yang memberi rasa

Sabtu, 25 Jun 2011

Senandung Seisi alam : Hati Daun

Ranggup
patah-riuk dedaun kering jelas ditiap tapak
daun kerin
g, aku, nasib dan hati yang malang
Kita sering patah dan hancur bukan?

Dedaun kering
kau tegur aku, cukup mesra sekali
kau jamah rambut aku seperti sentuh ibu
kau sebati dengan hatiku
tika kamu berdua kupijak kecewa

Dedaun bisu betapa ku mahu menjadi
keringmu gugur sunyi ke bumi
layumu tiada siapa yang peduli
Dimana hatimu dedaun?

-S.Syahmi-
-Sg.besi-

Senandung Seisi Alam : Angin,Berbisiklah


Bila angin membisu memberi seribu tanya
kemana perginya puput dingin dan mesra belainya?
kemana tujunya dari melingkari dahan noda dan rasa?
seribu kata hilang dari pungutan angin
tika angin bisu memukul wajah
hilang manggu biru
dan angan lalu berkecai bersama realiti palsu

Tolong angin

berbisiklah kembali
relau hati ini
mendamba senandung seribu bunyi
alam yang berisi

-S.Syahmi-

Khamis, 23 Jun 2011

Senandung Seisi Alam : Kehilangan

Sesak dada berbelak batuk-batuk
asap cemar ketar-ketar diisi dada
Modenisasi? Bunuh diri?

Tumbang satu tumbang dua tumbang semua
pohon dulu mesra meyambut panjatku
pohon dulu meneduh temu cinta pertama
pohon dulu ramah menghitung usia
pohon kini redha bertemu gergaji
pohon kini redha menjadi kayu api
pohon kini redha dibuang mengganggu jalan
Pembangunan? Pengorbanan?

Hilang rimba didada bumi
hilang hijau dilusuh hujan
hilang kali ditambak berkali-kali
hilang merdu dari kicau burung
Kemajuan? Kehilangan?

Rabu, 22 Jun 2011

Senandung Seisi Alam : Katakan Malam!



















Katakan malam!
Siapa yang membunuh neonmu sayang?
Siapa yang menduga hatimu malang?
hitammu keputihan
putihmu dalam kehitaman
tika bulan menari solo di lantai kesunyian

Ketepi bintang-bintang!
Julangkan nur sayap sulung ke tiap hati murung
kan tiap juang kan terasa menangnya!

Katakan malam!
Semua duga yang kau selam dalam dansa kelam
Adakah pekik cengkerik dan riuh rindu pungguk menjadi musikmu?
Maka bisikkan lagu-lagumu padaku diam-diam
menyubur dengkur-dengkur yang memujamu malam
Sayang!

Katakan Malam!
Parut yang tergarit angkara siang
Siapa yang mengusung suara kosongmu sayang?
Siapa yang mengendong hasrat siang ke dada malam?
dan kau malam, tanpa jemu
menyatakannya dalam mimpi-mimpi berulang

Sayang malamku sayang
kau enggan menyinggung perasaan siang
Katakanlah malam!
Nafikan sayangmu pada siang!
Katakan!

(Lalu siang melempar bayinya
fajar biru yang jelas cemburu
kasihan, malamku kan terus diburu)


-S.Syahmi-
-Sg.Besi-

Jumlah Paparan Halaman